BABAT RAYA – Dalam rangka memastikan efektivitas dan akuntabilitas pemanfaatan Dana Desa sektor Ketahanan Pangan, Pendamping Desa Babat Raya melakukan monitoring dan evaluasi (Monev) berkala terhadap unit usaha kolam bioflok budidaya ikan nila yang dikelola oleh BUMDes Sumber Raya.
Kegiatan monitoring ini bertujuan untuk meninjau langsung perkembangan fisik infrastruktur, kondisi kesehatan komoditas ikan, serta manajemen operasional yang dijalankan oleh pengurus BUMDes.
Optimalisasi Dana Desa untuk Ketahanan Pangan Berkelanjutan
Program kolam bioflok ini merupakan salah satu program strategis Pemerintah Desa Babat Raya yang dianggarkan melalui alokasi 20% Dana Desa untuk Ketahanan Pangan 2025. Pemilihan teknologi bioflok dinilai sebagai langkah inovatif karena mampu memaksimalkan produktivitas hasil perikanan di lahan yang terbatas, serta lebih hemat penggunaan air dan pakan.
"Kami ingin memastikan bahwa penyertaan modal dari Dana Desa ini benar-benar dikelola secara profesional oleh BUMDes Sumber Raya, sehingga dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dalam jangka panjang, serta kami pribadi pernah juga pengalaman memiliki kolam bioflok nila sehingga dapat sharing bersama pengurus BUMDes" ujar Wahidin Ilmi di sela-sela peninjauan lapangan.
Poin Utama Fokus Monitoring:
Kondisi Teknis & Kualitas Air: Pemeriksaan kadar pH, oksigen terlarut (DO), dan flok yang menjadi sumber pakan alami ikan.
Perkembangan Biomasa: Pengukuran sampel bobot dan ukuran ikan nila secara berkala untuk mengestimasi waktu panen.
Manajemen Risiko: Evaluasi sistem drainase dan antisipasi serangan penyakit endemik pada kolam.
Administrasi & Keuangan: Peninjauan buku kas operasional dan pencatatan logbook harian oleh pengurus BUMDes.
Komitmen BUMDes Sumber Raya dalam Kemandirian Ekonomi
Berdasarkan hasil pemantauan, secara keseluruhan progres budidaya ikan nila dengan sistem bioflok ini menunjukkan tren yang sangat positif. Pertumbuhan benih ikan berjalan optimal dengan tingkat mortalitas (kematian) yang relatif rendah dan berada di bawah ambang batas toleransi.
Direktur BUMDes Sumber Raya menyampaikan bahwa unit usaha ini tidak hanya diproyeksikan untuk menyumbang Pendapatan Asli Desa (PADes), tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi warga.
Ketika masa panen tiba, hasil produksi akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat lokal guna menekan angka stunting, sebelum nantinya didistribusikan ke pasar yang lebih luas terutama dapat nanti bekerjasama dengan Dapur MBG (Makan Bergizi Gratis).
Langkah Strategis Selanjutnya
Kedepannya Desa dan BUMDes Berencana menambah Kolam Ikan Bioflok kembali dengan D3 2 Unit serta Kolam Ikan Papuyu Thailand dengan 3 Kolam.
"Kami berencana kedepannya akan menambah beberapa kolam lagi menggunakan Dana Ketahanan Pangan di 2026 sehingga cita-cita kami BUMDes Sumber Raya dapat memenuhi kebutuhan Ikan di Desa kami" ujar Abdul Muin Selaku sekretaris Desa Babat Raya di sela-sela kegiatan.
Menutup kegiatan monitoring tersebut, Salah Satu Pendamping Desa memberikan beberapa rekomendasi penting kepada pengurus BUMDes:
Peningkatan Kapasitas SDM: Menjaga konsistensi pemberian pakan dan pengawasan kualitas air secara disiplin 24 jam.
Pemetaan Pasar (Marketing Mapping): Mulai membangun jaringan kemitraan dengan tengkulak, rumah makan, atau pasar modern sejak dini agar harga jual saat panen raya tetap stabil.
Pelaporan Berkala: Menyusun laporan perkembangan usaha secara berkala untuk dilaporkan dalam Musyawarah Desa (Musdes).
Dengan adanya pengawalan ketat dari Pendamping Desa dan kerja keras pengurus BUMDes Sumber Raya, Desa Babat Raya optimis dapat menjadi desa percontohan dalam implementasi program Ketahanan Pangan yang sukses, mandiri, dan berkelanjutan.
Editor : wahidin ilmi






.jpeg)










